Menulis Sampai Mati!

SEPERTI tak ada lelahnya, itulah ungkapan singkat yang mewakili semangatku untuk menulis akhir-akhir ini. Ya, itulah ungkapan yang aku miliki jika mendengar kata menulis dan melakukan aktivitas menulis. Tak sedikit pembaca tulisanku dari seluruh Indonesia yang bertanya perihal semangatku dalam menulis sehingga setiap harinya aku bisa menulis dalam banyak judul.

Pertanyaan semacam itu memang layak mereka ajukan. Bagaimana tidak hampir 2 tahun terakhir, jariku seperti terjangkit virus semangat yang nyaris tak terobati. Ya, benar-benar seperti kecanduan untuk menulis. Tidak saja di laptop dan HP, tapi juga di kertas-kertas yang mungkin oleh sebagian orang sudah dianggap sampah, tapi menurutku masih bisa dimanfaatkan. Akhirnya, akupun seperti kecanduan begitu.

Kecanduan menulis? Ya aku kecanduan untuk menulis. Oh iya, kira-kira obatnya ada atau tidak ya? Atau di antara pembaca ada yang tahu pusat rehabilitasi bagi siapapun—seperti aku—yang terkena virus semangat menulis? Tolong ya…he he he. Sudah tak tahan nih. Semangatnya nyaris tak terbendung lagi. Sekali lagi, tolong ya!

Walaupun masih jauh dari standar penulisan ilmiyah dan—ini yang perlu aku sampaikan secara jujur—masih jauh dari kualifikasi tulisan “berisi”, tulisanku bisa dibaca di beberapa surat kabar, terutama pada kolom opini dan wacana masing-masing surat kabar di beberapa kota. Silahkan baca saja surat kabar yang ada di daerah atau kota di mana pembaca berada. Insya Allah di situ ada tulisan aku. Tapi jangan sering-sering carinya, karena tidak setiap hari aku mengirim tulisan,,, ditambah lagi banyak surat kabar kan. Jadi, aku mesti mengirim untuk banyak surat kabar. Sehingga untuk satu surat kabar dimuat rata-rata sekali dalam sebulan. Kalau pembaca tidak menemukan tulisanku di surat kabar bersangkutan, itu pertanda pembaca mesti membuat tulisan untuk kolom yang memang membutuhkan karya tulis para pembaca. Oke ya!

Oh iya, kok bisa ya aku menulis untuk banyak surat kabar? Sederhana saja. Mulai saja: menulis. Lumayan cape, tapi cape menulis lebih baik daripada tak cape karena tak melakukan apa-apa. Semangatku tuk menulis memang k’buru membara dan menyala-nyala. Kaya api githu. He he he. Semoga pembaca terprovokasi untuk menulis juga ya…

Selain itu, tulisanku juga dapat dibaca di beberapa web site, blog dan facebook (FB) beberapa pembaca yang mungkin tertarik dengan tulisanku. Aku sendiri merasa kaget dan heran, mengapa tulisanku yang sederhana dan “tak berisi” tersebut digemari oleh banyak orang. Lucunya, aku tak begitu tahu kapan pastinya mereka ambil tulisanku di blog kesayanganku (catatan syamsudin kadir) dan FB-ku mereka ambil. Tapi, ya itulah kenyataan yang mesti aku syukuri. Ternyata kalau tekad dan semangat yang kuat untuk menulis sudah menghiasi seseorang maka aktivitas menulis pun akan tidak menemukan kendala yang begitu berat. Bahkan pembaca pun akan memburu tulisannya untuk dibaca atau dipajang di web site, blog dan FB-nya. Aku mengalami kenyataan semacam itu. Lagi-lagi, cukup memulai menulis tanpa alasan ini itu.

Oh iya, kembali ke pertanyaan awal mengenai alasanku mengapa begitu semangat menulis. Sebetulnya, kalau pembaca “mendalami” aku lebih jauh, maka pembaca pun akan mendapatkan jawaban yang pasti tentang alasan mengapa aku menulis. Silahkan teliti aku, setiap hari ngapain saja, dan ke mana saja. Lebih detail, silahkan tanya istri aku (Mba Uum Heroyati) dan anak aku (Azka Syakira dan Bukhari Muhtadin). Nanti akan paham dan lebih kenal kok. Tak percaya?

Oke, daripada panjang-lebar ke mana-mana, berikut alasan sederhana mengapa aku menulis dan tetap menjaga semangat yang aku miliki untuk selalu menulis. Bahasa sederhananya, menulis tanpa tapi; mencintai tradisi menulis tanpa tapi. He he he.

Pertama, bagiku, menulis adalah wujud syukur atas apa yang Allah Swt. anugerahkan untukku selama ini. Bagaimana tidak, jangan kan nikmat di luar diri, nikmat yang ada dalam diri aku saja sudah merupakan nikmat yang tak ada bandingannya. Semua itu adalah anugerah dari Allah Swt. yang patut aku manfaatkan dengan baik untuk hal-hal yang baik pula. Baik untuk diri aku sendiri maupun orang lain di luar sana.

Nikmat akal, misalnya, dengannya aku bisa berpikir tentang banyak hal, bahkan mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Kalau saja Allah Swt. tidak menyediakan akal sebagai bagian yang mesti ada dalam diri aku, mungkin hingga kini aku tak mampu melakukan apa-apa dan tak bisa membedakan antar yang baik dan yang buruk. Bayangkan kalau aku diciptakan seperti orang gila yang memiliki otak namun (seperti) tak ada nikmat akal.

Mungkin aku tidak serame sekarang kali ya. He he he. Lagi-lagi, aku mesti bersyukur karena aku termasuk salah satu di antara miliyaran manusia yang mendapat nikmat akal (sehat). Ditambah lagi dengan nikmat jari-jari yang membuat tanganku kelihatan bagus. Aku mesti bersyukur kepada Allah Swt. atas nikmat ini, salah satunya adalah dengan menuliskan kembali apa yang terlintas dalam pikiranku. Itu baru salah satu nikmat saja, belum lagi nikmat yang lain. Maha Besar Allah atas semua ciptaan-Nya!

Kedua, selain sebagai wujud syukur, bagiku menulis adalah salah satu sarana gratis dimana dengannya aku bisa mengenang kembali apa yang pernah aku alami. Dengan menulis, apa yang telah aku lalui bisa dikenang kembali. Tujuannya tentu saja untuk hal-hal positif atau bermanfaat bagi diri aku dan siapapun di luar sana. Misalnya, mengambil hikmah dari pengalaman hidup yang aku alami. Orang bijak mengingatkan bahwa kesuksesan dapat juga dipahami sebagai hasil dari kemampuan mengambil makna dan pesan dari pengalaman masa lalu. Jadi, bagiku, menulis adalah penabung kenangan masa lalu yang pernah aku lewati; sehingga dengannya kelak aku mampu mengambil hikmah dan pelajaran.

Selanjutnya, ketiga, menulis bagiku adalah pemancing sekaligus penyemangat. Pemancing? Ya, pemancing. Aku pernah mendengar sebuah pernyataan begini, “Apa yang kita baca tak pernah hilang dalam otak kita, selamanya. Andai mengendap, maka cara untuk mengembalikannya dalam ingatan adalah dengan membaca dan menulis.”

Ya, aku termasuk yang tergoda juga untuk membaca sebagai pemancing ide. Makanya di rumahku tersedia banyak buku, termasuk surat kabar, majalah dan buletin. Aku punya impian agar kelak rumahku menjadi perpustakaan dengan seluruh bacaan yang tersedia di dalamnya. Aku sudah berazam melahap semuanya, membaca semua buku, surat kabar, majalah, buletin dan serupanya. Jadi, setiap hari aku memastikan diri aku untuk membaca—sekaligus menulis sebagai pengikat hasil bacaan.

Nah, dari tradisi membaca inilah biasanya aku menemukan banyak ide/gagasan, hikmah, pesan dan serupanya yang menurutku luar biasa banget. Jadi, yang luar biasa itu bukan aku lho, tapi sumber bacaan dan tradisi yang menemani aku hingga kini. Sebagaimana layaknya manusia secara umum yang kehilangan ide, aku juga kadang kehilangan ide—termasuk dari hasil bacaanku itu.

Dalam kondisi semacam itu, maka aku pun tergoda untuk menulis. Dengan menulis maka ide yang terasa menghilang pun tiba tiba hadir begitu rupa. Setelah menjadi tulisan, akupun memuatnya di blog dan FB-ku. Lumayan kan bisa berbagi dengan pembaca di luar sana. Bahasa sederhananya, bagi-bagi tulisan. Asyiknya oke punya dan luar biasa!

Dalam konteks lain, aku juga kadang mengalami kondisi “tidak semangat”, dengan menulis biasanya semangatku dalam menjalani aktivitas yang begitu padat kembali datang. Jadi, kalau lagi tak ada aktivitas biasanya kan terasa tak ada pikiran apa-apa, blong begitulah kira-kira. Nah, untuk menghadirkan ide atau gagasan, minimal mengisi kekosongan, aku biasanya memilih untuk menulis. Apa saja aku tulis? Ya, apa saja, yang penting menulis. Bahasa semangatnya begini, “menulis sampai mati”.

Keempat, menulis adalah upaya pewarisan atas tradisi para pendahulu. Kalau membaca sejarah maka akan ditemukan bahwa para ulama dan pahlawan memiliki tradisi unik yang melekat pada diri mereka yaitu tradisi baca-tulis. Coba perhatikan karya para ulama, misalnya, sampai detik ini hampir seluruh karya mereka masih dapat dibaca dan dikaji oleh banyak orang. Begitu juga karya para pahlawan. Semuanya menjadi khazanah yang membanggakan generasi di era ini bahkan pada masa yang akan datang. Jadi, bagiku, menulis adalah upaya pewarisan. Bukan kah sebaik-baik generasi adalah generasi yang tidak melupakan sejarah para pendahulunya? Mengingat sejarah para pendahulu dapat dilakukan dengan menulis, mewariskan tradisi mereka di zaman ini. Kalau saja para pendahulu tak mewariskan karya (tulis), maka kontinyuitas sejarah bahkan ilmu pengetahuan tidak akan sampai ke zaman ini. Jadi, bagiku menulis adalah penyambung sejarah.

Masih banyak hal lain yang menyebabkan aku selalu tergoda untuk menulis dan terus menulis. Namun paling tidak beberapa poin di atas sudah mewakili jawaban dari pertanyaan pembaca mengapa aku (selalu) semangat menulis. Semoga Allah Swt. menyediakan bagiku waktu untuk membuat tulisan lain seputar semangatku dalam menulis, atau juga seputar tema lain yang kira-kira bermanfaat bagi diri aku sendiri dan para pembaca setia.

Di atas segalanya, pembaca yang membaca tulisan ini bagiku adalah inspirator. Mengapa? Karena, kalau tulisanku tak dibaca orang (baca: pembaca), lalu siapa yang membaca tulisanku? Kalau saja tulisanku tak dibaca orang, apa mungkin monyet dan babi di hutan itu mau membaca tulisan aku? Kalau mereka mau, ya bagus juga sih. Kan jadi cerita tuh. Ada monyet dan babi yang membaca tulisan aku. Nah, andai ada monyet dan babi yang membaca tulisan aku, masa sih manusia tak ada yang mau membaca tulisan aku? Terima kasih monyet, terima kasih babi, dan terima kasih banyak manusia. He he he.

Jadi, pembaca yang baik hati, rajin menambung dan tidak sombong,,, silahkan rajin-rajin membaca tulisanku ya. Biar aku bisa menulis lebih banyak dan lebih baik lagi. Ingat, tulisanku ada di beberapa buku karyaku (NGOPI, Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia; POLITICS, Spirit to Your Success; Indahnya Persahabatan, Ayo ke Labuan Bajo!, dan lain-lain), blog-ku (akarsejarah.wordpress.com), web site beberapa pembaca, FB (Syamsudin Kadir) dan lain-lain. Atau silakan cari di google. Cukup tulis: Syamsudin Kadir. Nanti akan keluar tulisan aku, baik di blog maupun media serupanya. Oke, oke. Akhirnya, hayo menulis, menulis dan menulis. Mari menulis tanpa tapi! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur KOMUNITAS-Komunitas Cirebon Membaca, Cirebon Menulis, Penulis buku Spirit to Your Success, NGOPI,POLITICS, dll; No. HP: 085 323 027 046]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s