modul adobe photoshop

Leave a comment

modul baru adobe photoshop

Semakin Cinta Untuk Tilawah Qur’an

Leave a comment

“Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. (Qs. Al-Qamar: 17, 22, 32 dan 40)

Ternyata kandungan makna diatas sering kali berulang dalam surah Al-Qamar pada surah ke-54 ayat 17, 22, 32 dan 40. Jadi malu rasanya ketika tilawah qur’an terkadang saya hanya membacanya saja tanpa dapat mengambil pelajaran yang Allah terangkan di dalam ayat-ayat cintaNya.

Semoga tulisan sederhana ini dapat mengingatkan kita kembali untuk bisa semakin cinta dan dekat lagi dengan qur’an tentunya dekat pula dengan Allah :)

Ada beberapa hal yang membuat penulis termotivasi untuk tilawah qur’an antara lain adalah sebagai berikut:

Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : “Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

Dari Abdullah bin Mas`ud, bahwa Rasulullah SAW. berkata : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidakmengatakan “Alif lam mim” itu satu huruf, tetapi “Alif” itu satu huruf, “Lam” itu satu huruf dan “Mim” itu satu huruf. (H.R. At Tirmidzi)

Dari Abu Umamah Al Bahili berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : “Bacalah Al Qur`an ! maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya).” (H.R. Muslim)

Dari Aisyah RadhiyallahuAnha berkata, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” (Muttafaqun `Alaihi)

Dari Ibnu `Umar, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan (kedua) seorang yang diberioleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam.”(Muttafaqun `Alaihi).

Dari Muadz bin Anas, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya,  Allah akan mengenaka mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. ” (H.R. Abu Daud)

Nah itu motivasi saya, motivasi kamu apa? share dong hehe.

Sedikit ceritaku tentang ODOJ

Alhmdulillah efeknya terasa ketika saya mengikuti program “One Day One Juz” (ODOJ), tilawah saya jadi semakin terkontrol dan tentunya saya pun berusaha untuk dapat memahami makna dari apa yang saya baca dengan membaca terjemahannya dan hal yang terberat bagi saya adalah menjaga hafalan yang sudah dihafal. Berhubung banyak yang hilang hafalan saya jadi saya hafalan lagi deh, hehe.

Oya ketika sebelum ikutan ODOJ sebenarnya sihh saya sudah punya targetan tilawah sendiri sama persis dengan ODOJ yaitu satu hari satu Juz, tapi pada kenyataannya saya suka banyak alasan sehingga tidak mencapai target yang saya buat itu hiks..hiks sedihnya. (Maafkan aku Ya Allah). Tapi sekarang insya Allah dengan ikut ODOJ saya jadi komitmen lagi deh untuk “One Day One Juz” tentunya niatnya harus karena Allah bukan karena ada yang lain.

Saudaraku seiman dimanapun kalian berada. Sesibuk apapun diri kita, entah itu alasanya pekerjaan, penelitian, kuliah, berjualan, ngajar dan sebagainya jangan sampai deh kita ngelupain tilawah karena kalau kita jauh dari qur’an maka Allah pun akan menjauh juga dari kita. Karena Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca bukan untuk dibiarkan begitu saja apalagi tidak terjamah sama sekali dengan kita hanya sebagai pajangan yang masih tercover bersih dan rapih. Naudzubillah.

Yuukk saatnya kita untuk membiasakan diri walaupun memang berat diawal tapi insya Allah dengan hal yang sudah kita paksakan itu nantinya akan menjadi terbiasa. Percaya deh sama saya hehe. Oya semoga kata-kata dibawah ini dapat menjadi bahan renungan buat kita semua.

 

Bacalah qur’an

Kalau tidak mampu, bacalah separuh juz,

Kalau tidak mampu, bacalah sekedar sehelai atau satu muka surah,

Kalau tidak mampu, berusahalah dengan satu ayat,

Kalau tidak mampu juga, cukuplah hanya dengan memandang al-quran dan tanyalah kepada diri sendiri

“ Ya Allah, apakah dosaku sehingga aku tidak dapat membaca ayatMu”

Oyahh yang belum ikutan ODOJ yukk gabung biar semakin termotivasi tilawahnya selain itu juga nambah saudara baru loh, asyikkan :)

Catatan Alzena Valdis Rahayu

Kota Hujan, 9 Februari 2014

@Ririnsukses

Jika Hidupmu Begitu Berharga, Mengapa Malas?

Leave a comment

Untukmu wahai jiwa yang malas,

Betapa ruginya dirimu ,jika engkau memperturutkan rasa malas yang menggelayut dalam jiwamu.

Orang lain telah mendahuluimu dengan amal, keutamaan, cita-cita, serta prestasi hidup.

Sementara dirimu masih tertidur, belum berbuat apa-apa dan tertinggal. 

Orang lain telah menghafal puluhan juz, bahkan hafal 30 juz, sementara dirimu juz 30 pun tak hafal-hafal dari dulu sampai sekarang

Orang lain telah mendahuluimu berpagi-pagi menjemput rezeki, sementara dirimu masih nyaman dalam hangatnya selimut.

Orang lain telah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, sementara engkau belum mengumpulkan apa-apa.

Kafilah kebaikan telah berangkat, tapi engkau masih sibuk mempersiapkan diri.

Para perindu malam telah sibuk bermunajat,, dan mendirikan malam-malamnya dengan shalat tahajud, membaca Al-Qur’an dan memohon ampun kepada Allah dikeheningan malam. Sementara dirimu masih terbuai dengan mimpi-mimpi.

Bangunlah wahai para pemimpi!

Sungguhnya kemulian tak akan bisa kau dapatkan dengan kemalasan.

Cita-cita tertinggi tak akan bisa kau raih dengan sikap santai, dan berlambat-lambat. 

Semua keutamaan itu hanya bisa kau raih dengan bangun, bangkit, dan bersegera,

Maka bergegaslah, berangkatlah lebih awal,  jangan menunda-nunda, milikilah tekad yan membara serta istiqamahlah dalam menjalaninya.

Wahai orang bermalas-malasan, mungkin sebuah syair ini cocok menggambarkan keadaanmu,

“Hai orang yang tertipu, siang harimu hanya ada lupa dan lalai

Dan malam harimu hanya ada tidur lelap

Kamu tentu akan hancur binasa

Karena kamu hanya memperjuangkan sesuatu yang justru kelak akan kamu ingkari sendiri

Hidupmu didunia tak ubahnya laksana binatang

Kamu suka hal-hal fana dan bergelimang dalam angan-angan hampa

Sama seperti orang tidur yang sedang dibuai oleh nikmat-nikmat mimpi”

Wahai jiwa yang lemah,

Jika engkau  menyadari betapa menyesalnya ahli surga atas setiap  detik yang mereka lewatkan tanpa melakukan amal kebaikan, tanpa ada ucapan dzikir didalamnya, tanpa ada memberi manfaat kepada yang lain, karena melihat balasan dan ganjaran yang begitu besar  atas setiap amal kebaikannya. Mereka ingin dikembalikan kedunia agar bisa menambah kebaikannya, walaupun itu cuma satu tasbih,

“Penduduk surga tidak menyesali sesuatu kecuali terhadap satu saat yang lewat, sementara mereka tidak berzikir kepada Allah didalamnya.” (diriwayatkan At-Thabrani)

Wahai jiwa,betapa berhaganya kesempatan yang  engkau punya sekarang! 

Tapi kenapa engkau sia-siakan!

Jika hidup begitu berharga , mengapa engkau malas?

Mumpung masih hidup dialam dunia.Kesempatan bagimu melakukan amal masih terbentang luas.

Manfaatkanlah setiap detiknya yang begitu beharga.

Coba bayangkan apabila engkau telah berpindah dari alam dunia ini,terputus sudah segala kesempatan untuk beramal,yang ada engkau hanya  menunggu balasan. Tidak akan pernah ada peluang, tidak akan pernah ada harapan untuk kembali kedunia agar engkau bisa memperbaiki segalanya.

Tidakah engkau dengar berita dari Al-qur’an tentang rengekan orang yang dihadapkan kematian kepadanya; 

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata, ‘Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia), agar aku berbuat amal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu perkataan yang diucapkannya saja dan didepan meraka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”’.” (Al-Mukminun: 99-100)

Atau berita tentang penyesalan ahli neraka, dan mereka minta dikembalikan kedunia;

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (kedunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami,serta menjadi orang-orang yang beriman’.” (Al-An’am:47)

Jika kesempatatan begitu beharga, kenapa engkau tak bergegas!

Bangunlah,hempaskan  setiap kemalasan yang membelenggu jiwa.!

Sungguh saudaraku, jika engku  benar-benar tahu akan berharganya hidup, tentu engkau tak akan bermalasan lagi.

Jika engkau tahu keutamaan orang-orang yang datang lebih awal, tentu engkau akan bergegas.

Jika engkau tahu keutamaan mendirikan shalat berjamaah di mesjid, niscaya engkau akan mendatanginya dengan merangkak.

Seandainya engkau paham akan besarnya ganjaran pahala syahid dijalan Allah, mungkin engkau akan menjadi arang yang pertama menyambut seruan jihad.

Jika engkau merasakan keutamaan serta kemulian yang dimiliki oleh para ahli ilmu, tentu engkau akan berlelah-lelah untuk belajar, menghafal, dan menuntut ilmu.

Maka saudaraku, hempaskanlah kemalasan! Raihlah keutamaan!

Wahai jiwa, agar kemalasan tak bersarang dalam jiwamu!

Karena sungguh malas dalam beribadah adalah salah sifat yang dimiliki kaum munafik:

“Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas.” (An-Nisa’: 142)

Jika malas masih bersemayam dalam dirimu maka mohonlah pertolongan dan perlindungan kepada Allah, bukankah Rasululah telah mengajarkannya keada kita.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketidak berdayaan,malas, pengecut dan pikun ( HR. Muslim)

Karena dengan hanya pertolongan Allah  lah kita bisa terhindar dari sifat-sifat jelek.          

 

 

Salam santun

Abik

Tiada Hari Tanpa Membaca Al-Qur’an

Leave a comment

‘Barangsiapa yang tertidur sebelum menyelesaikan satu Al-Qur’an atau sebagian dari hizb, kemudian ia membacanya antara shalat  Shubuh dan shalat zhuhur, maka ditulis baginya (pahala) sebagaimana pahala saat membacanya di malam hari.” .” (HR. At Tirmidzi, Abu ‘Isa berkata, ini adalah hadits hasan shahih)

 

Saudaraku,

Jika kita renungkan sabda Rasulullah diatas, menunjukkan semangat berinteraksi dengan Al-Qur’an yang tidak boleh terlewatkan oleh kondisi apapun yang merintangi serta kendala apapun yang menghadang. Ciri khas mereka adalah membaca Al-Qur’an dalam shalat malam, terutama shalat malam. Mereka banyak sekali membacanya pada waktu malam. Ada target-target tilawah yang harus mereka selesaikan setiap malamnya (hizb). Jika mereka terhalang membacanya diwaktu malam, maka mereka menggantinya pada pagi hari. Betapa para pendahulu kita, dari nabi Muhammaad SAW dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan benar interaksinya dengan Al-Qur’an begitu akrab dan membaca Al-Qur’an bagi mereka menjadi suatu amalan yang tidak pernah diabaikan baik dalam kondisi menetap (muqim), dalam perjalanan (safar), sehat atau dalam kondisi sakit sekalipun.

Saudaraku,

Begitulah saudaraku , hendaknya interaksi kita dengan Al-Qur’an, meneladani para pendahulu kita dari kalangan shalafus shaleh yaitu semangat mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an yang tidak terintangi dan terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang, mereka bertekad tidak akan melewatkan hari tanpa baca Al-Qur’an, mereka menekuninya siang dan malam. Jika mereka terhalang membacanya diwaktu malam, maka mereka menggantinya diwaktu siang. Jika disiang hari mereka tersibukkan oleh urusan-urusan  dan perniagaan yang mereka urus, maka mereka sangat merindukannya agar bisa membacanya diwaktu malam.

Mereka adalah orang-orang yang pantas kita iri terhadap mereka. Sebagaimana disinggung dalam sebuah hadis Rasulullah Shallahu wa Alaihi wa Sallam:

“Tidak diperbolehkan iri hati kecuali terhadap dua orang; yaitu seseorang diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca dan memahami Al-Qur’an kemudian ia mengamalkannya, baik pada malam maupun siang, dan seseorang yang dikarunia harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya dalam kebaikan, baik pada waktu malam maupun siang hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam keyakinan para shalafus shaleh, membaca Al-Qur’an adalah nutrisi hati yang bila tidak dipenuhi akan membuat hati akan mati. Mereka lebih mengutamakan nutrisi hati dari pada nutrisi badan, dan selalu merasa ada yang kurang dan sesuatu yang hilang bila ada hari terlewatkan tanpa membaca Al-Qur’an. Kondisi ini tentu berbeda dengan orang-orang yang minim kuantitas dan kualitas ibadahnya. Mereka hanya bisa merasakan lapar fisik, haus badan, dan sakit badan semata. Adapun haus, lapar, dan sakitnya hati bagi mereka adalah sesuatu yang sangat sulit dirasakan.

Saudaraku,

Para Sahabat ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an mereka tidak pernah jemu dan bosan membacanya siang dan malam. Karena kebersihan hati mereka, jadi ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an jiwa mereka selalu bergembira dan hati mereka jatuh cinta terhadap Al-Qur’an, ketika hati suci dan jiwa telah terpaut cinta dengan sesuatu  tentu para pecinta merindui sepanjang waktu apa yang dicintainya dan akan betah berlama-lama dengan apa yang dicintainya.

Sahabat Utsman bin Affan pernah berkata, “Jika  hati itu suci, maka ia tak akan pernah puas dan bosan untuk membaca Al-Qur’an.

Saudaraku,

Mari introspeksi secara jujur kepada diri kita masing-masing. Bagaimana keaadan kita ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an? Sejauh mana kedekatan kita dengan Al-Qur’an? Sejauh mana ketergantungan kita kepada kitab Allah tersebut? Apakah diri kita bisa-biasa aja ketika satu hari terlewatkan tanpa membaca Al-Qur’an? Jangan-jangan kita lebih sempat baca Koran ketimbang baca Al-Qur’an?

Saudaraku,

Mulai saat ini, mari kita perkuat lagi ketergantungan kita kepada Al-Qur’an. Mari pererat lagi interaksi kita dengan Al-qur’an.

Sungguh saudaraku,

Hendaknya semangat berinteraksi dengan Al-Qur’an harus melebihi semangatnya seorang pelajar ketika membaca buku pelajaran yang esok harinya mau diujikan. Tentu ia akan membacanya dengan pernuh perhatian, teliti dan cermat sehingga ia benar-benar siap menghadapi ujian sedetail mungkin esok harinya.

Hendaknya rasa butuh kita terhadap Al-Qur’an dalam menjalani kehidupan  ini melebihi butuhnya seorang nahkoda akan peta tujuannya dan kompas sebagai penunjuk arah. Tentu seorang pelaut agar sampai ketempat tujuan sangat bergantung dengan peta dan penunjuk arah.

Saudraku, mari kita akrabi dan bersahabat dengan Al-Qur’an, dengan membaca, mentadaburi, menghafal, mengajarkan dan mengamalkannya. Dan jangan kita biarkan hari kita berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.

Salam santun

Ahmad Khan

Menulis Untuk Dakwah

Leave a comment

Saudaraku,

Iman Ibnu jauzi memberi nasehat betapa pentingnya berdakwah melalui media tulisan. Imam Ibnul Jauzi berkata: “Saya memandang bahwa manfaat menulis lebih banyak daripada manfaat mengajar, karena kalau mengajar mungkin hanya kepada beberapa orang tertentu saja, sedangkan tulisan dibaca dan diambil manfaat oleh sekian banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, bahkan mungkin oleh mereka yang kini belum lahir ke dunia. Bukti akan hal ini bahwa manusia lebih banyak mengambil manfaat dari kitab-kitab para ulama pendahulu daripada dari pelajaran guru-guru mereka.

Oleh karena itu, hendaklah orang yang dikaruniai Alloh ilmu meluangkan waktunya dalam menulis karya yang bermanfaat, sebab tidak semua orang yang membuat karya berarti bermanfaat, karena tujuan tulisan bukan hanya sekedar mengumpulkan sana-sini, tetapi itu adalah anugerah yang Alloh berikan kepada hamba pilihan-Nya sehingga dia mengumpulkan masalah yang berserakan dan menjelaskan masalah yang masih rumit … inilah tulisan yang bermanfaat. Hendaknya menulis dilakukan di tengah-tengah umur, karena awal umur untuk menuntut ilmu dan akhir umur sudah mengalami keletihan.” (Shoidhul Khothir hal. 386)

More

Tauhid dan Diplomasi Jihad

Leave a comment

Pertarungan yang terjadi antara al-haqq melawan al-batil semestinya berangkat dari idea. Berangkat dari pembelaan terhadap konsepsi utuh al-haqq dari serangan sporadis al-batil. Bila berangkat dari konsepsi, pemantik perseteruan yang palingafdhal adalah jika inti konsepsi diserang oleh al-batil; yakni konsepsi Tauhid.

Dengan demikian, keberadaan praktek syirik, yang merupakan perbedaan nyata dari konsepsi Tauhid, seharusnya paling pas menempati posisi sebagai pemicu, spirit dan jantung pertarungan. Praktek syirik banyak ragamnya, baik syirik terkait ‘dunia lain’, perdukunan, paganisme, maupun syirik terkait sistem kekuasaan.

Atau jika al-haqq itu dilambangkan status pemeluknya;  muslim –  maka poros pertarungan melawan al-batil terletak pada status muslim atau kafirnya. Kapan seseorang atau komunitas telah berubah status dari muslim menjadi kafir, saat itu genderang pertarungan mulai ditabuh. Status kekafiran menjadi pemicu pertarungan.

Secara konseptual memang benar. Pertarungan antara al-haqq melawan al-batil harus dilandasi perbedaan dasar konsepsi antara al-haqq dengan al-batil itu sendiri. Tapi masalahnya, dimensi pertarungan tak hanya soal konsepsi, tapi juga elemen manusiawi lain. Terbukti dalam sejarah manusia, spirit perbedaan konsepsi tak cukup kuat menjadi pemantik pertarungan.

More

DICABUTNYA KEBERKAHAN WAKTU

Leave a comment

Salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Hadits tentang hal ini cukup banyak, diantaranya hadits riwayat Imam Ahmad dan Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda,

لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ ، فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ

“Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun bagaikan satu bulan, satu bulan bagaikan satu minggu, satu minggu bagaikan satu hari, satu hari bagaikan satu jam. Dan satu jam bagaikan api yang membakar daun kurma.” [ HR. Ahmad 10560 ].

Dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah juga bahwa Nabi Saw bersabda, “Waktu akan semakin singkat, harta akan berlimpah ruah, fitnah akan menyebar, dan akan banyak terjadi pembunuhan.”

Arti dari dekatnya waktu
Ada beberapa pendapat para ulama tentang makna berdekatannya zaman, di antaranya:

Pertama : Maksudnya adalah sedikitnya keberkahan di dalam waktu. Keberkahan yang paling penting adalah keberkahan di dalam hidup dan waktu kita. Sebab, demi Allah, kita diciptakan untuk sebuah tugas maha penting, dan waktu adalah modal yang paling utama agar kita dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Tanpa keberkahan dan manajemen waktu, seseorang tidak akan dapat menunaikan tugas itu dengan sempurna. Karena itu, bagi mata hamba-hamba Allah yang sejati, waktu jauh lebih mahal dan lebih berharga daripada uang dan harta benda apapun di dunia ini. Keberkahan dalam waktu menjadi dambaan mereka melebihi yang lainnya.

Imam Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata, “Andai seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal dan memikirkannya sepanjang hari. Ia mengeluh: Inna lillah, emas saya hilang. Namun belum pernah seseorang mengeluhkan: satu hari telah berlalu, apa yang telah aku lakukan dengannya?”
Orang-orang seperti ini selalu menyesal jika sebuah detik dari waktunya berlalu tanpa manfaat. Seorang ahli hadits kenamaan Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi sering kali terlihat sedang membaca sambil berjalan sebab ia tidak ingin membuang waktunya percuma. Imam Ibn Rusyd, ahli fiqih dan filsafat terkenal, juga diceritakan tidak pernah meninggalkan membaca buku dan mengajar sepanjang hidupnya kecuali dua malam saja: yaitu ketika ia menikah dan ketika bapaknya meninggal dunia.

Keberkahan waktu dapat kita lihat di sejarah hidup tokoh-tokoh Islam sejak masa sahabat. Mereka berhasil melahirkan prestasi besar hanya dalam masa yang sangat singkat sehingga agak sukar diterima logika “zaman hilang-berkah” kita ini. Zaid bin Tsabit, misalnya, berhasil melaksanakan perintah Nabi Saw untuk menguasai bahasa Yahudi (Suryaniah) –percakapan dan tulisan- hanya dalam 17 hari saja. Padahal pada saat itu belum ada alat bantu modern audio visual seperti sekarang ini. Bandingkan dengan diri kita yang memerlukan masa bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa Arab atau Inggris tanpa memperoleh hasil yang membanggakan.

Begitu juga, Imam Ibn Al-‘Arabi (ahli hadits dan fiqih mazhab Maliki asal Andalusia) berhasil menulis berbagai buku-buku besar dan penting, salah satunya sebuah tafsir setebal delapan puluh ribu lembar halaman. Imam Jalaluddin Al-Suyuthi berkata bahwa pemimpin Ahlusunnah wal jama’ah Syeikh Abul Hasan Al Asy’ari pernah menulis sebuah tafsir sebanyak 600 jilid. Al-Suyuthi berkata, “Sekarang buku itu masih berada di perpustakaan Al-Nizhamiah di Baghdad.”

Belum lagi Imam Al-Ghazali yang hanya hidup 55 tahun, dan Al-Nawawi yang hidup hanya 45 tahun, namun berhasil menulis banyak buku berharga berjilid-jilid. Juga Imam Ibn Al-Jauzi yang dikatakan Imam Al-Dzahabi, “Aku tidak mengetahui seorang ulama yang menulis sebanyak tulisan orang ini.”
Siapa yang pernah mencoba menulis buku pasti tahu betapa besar keberkahan yang Allah berikan kepada waktu para ulama ini. Sebagai manusia biasa, mereka memiliki waktu sama dengan kita: satu bulan terdiri dari empat minggu, satu minggu terdiri dari tujuh hari, dan satu hari terdiri dari 24 jam. Namun keberkahan dalam waktu memungkinkan mereka berkarya dan membuahkan prestasi lebih banyak dari kita.
Keberkahan waktu benar-benar kita rasakan telah hilang pada masa kita ini sehingga sering kali sebuah buku tidak dapat kita selesaikan meski berbulan-bulan telah berlalu. Kitapun juga mendapati ketidak mampuan melakukan pekerjaan persis seperti yang dilakukan sebelumnya.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hal ini telah didapati pada zaman kita sekarang ini. Karena kita telah menjumpai cepatnya waktu berlalu yang tidak pernah kita temukan pada zaman sebelum kita.” [Fat-hul Baari (XIII/16].
Kemungkinan hal itu terjadi karena lemahnya keimanan yang disebabkan oleh pelanggaran-pelanggaran syari’at dalam berbagai hal, terutama pelanggaran dalam hal makanan. Tidak diragukan di dalamnya ada sesuatu yang murni haram dan yang syubhat, dan kebanyakan manusia tidak berhenti mengkonsumsi hal itu, walaupun ia sanggup untuk mendapatkan sesuatu yang halal. Akan tetapi dia tetap mengambilnya tanpa mau peduli.
Dan kenyataannya bahwa keberkahan dalam waktu, rizki, dan tumbuhan hanya dapat diwujudkan dengan kekuatan iman, mengikuti perintah, dan menjauhi larangan, dalil akan hal itu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi….” [Al-A’raaf: 96]
Lemah iman memang membawa kepada berbagai maksiat dalam pekerjaan seperti melakukan korupsi, menerima suap dan lain-lain. Padahal perbuatan ini hanya memberi keuntungan semu yang akan sirna dalam masa singkat. Pengkhianatan (dalam pekerjaan) menghapus berkah sebagaimana haram menghapus halal. Barangsiapa berkhianat dalam satu dirham, Iblis akan menyeretnya untuk berkhianat dalam seribu dirham.
Tak ada keberkahan selama haram menjadi santapan kita. Sebab makanan yang haram atau syubhat selalu menghalangi manusia untuk menggunakan waktunya dengan efektif. Fenomena malas dan tidur ketika beribadah, menuntut ilmu dan bekerja lahir akibat konsumsi makanan seperti ini. Sedangkan obat yang paling mujarab untuk mengusir kantuk adalah memakan halal dan menjauhi haram atau syubhat. Barangsiapa memakan haram dan syubhat, banyak tidurnya.

More

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.