Buku Berbakti kepada orang tua

Leave a comment

1. Daftar isi 2

2. Ibu Lebih Utama buku spasi 2

Leave a comment

Dialog Sedahsyat Shalat

AYAH… sudah mencoba ngobrol dengan anak-anak?

Alhamdulillahjika sudah dan teruskan hal itu sesering mungkin sambil kita belajar terus tentang seperti apa dialog produktif yang disampaikan oleh Al-Qur’an.

Dalam tulisan ilmiah di Ummul Quro menyebutkan ada 17 tema dialog antara orangtua dengan anaknya dalam al-Qur’an.

Perhatikanlah angka 17. Bukankah itu adalah bilangan rakaat shalat kita yang wajib sehari semalam? Benar!

Kini, mari kita gali hikmah di balik kesamaan angka tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an yang penuh mukjizat dan tidak ada yang kebetulan.

More

Menjadi Kakek Seperti Rasulullah

Leave a comment

“BERMAIN sih memang dunia anak-anak.”

Kalimat ini seperti telah menjadi sebuah aksioma tak terbantahkan. Saya pun tidak sedang ingin membantah. Saya sepaham dengan kalimat ini.

Kalau begitu apa yang mau dibahas di tulisan ini?

Tulisan ini merupakan mukaddimah untuk konsep utuh yang Islami tentang dunia permainan bagi anak-anak –biidznillah-.

Apakah harus segitunya…? Oh ya, karena Nabi sendiri yang memilihkan, menyetujui dan mengarahkan tentang permainan anak-anak di zaman terbaik itu. Bahkan para ulama juga bicara tentang hal ini. Sebenarnya para ahli kesehatan dan pendidikan zaman sekarang, sudah sering mengingatkan tentang bahaya permainan-permainan tertentu.

Apalagi jika kita baca ayat berikut ini,

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.”Dan Kami Berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak.” (Qs. Maryam: 12)

Kata shobiyya di ayat ini terasa spesial, karena di dalam Al Quran tidak ada orang yang diberi oleh Allah SWT. berupa hikmah di usia kanak-kanak selain Yahya. Ada penekanan yang sangat kuat pada kata shobiyya (usia kanak-kanak).  Menurut Al Qurthubi dalam tafsirnya, menukil kalimat Muqotil dan Qotadah bahwa usianya baru 3 tahun saat dianugerahi hikmah.

Dan berikut penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya,

(Dan Kami Berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak.) yaitu: pemahaman, ilmu, kesungguhan, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya pada usia belia.

Abdullah bin Mubarak berkata: Ma’mar berkata: anak-anak kecil berkata kepada Yahya bin Zakariya: “Ayo kita bermain..”.

Yahya menjawab: “Bukan untuk bermain, aku diciptakan”

Ma’mar berkata: “Karena itulah Allah menurunkan ayat ini.

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ‘ketidakbermainan’ Yahya di usia kecilnya. Di masa kecilnya Yahya selalu berusaha untuk mendapatkan pemahaman, ilmu, kesungguhan, tekad, menyambut kebaikan dengan serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalaninya.

Jika ditanyakan kepada kita semua. ‘Siapa yang tidak ingin generasinya mempunyai semua kemuliaan itu sejak kecil?’ Jawabannya pasti kita semua menginginkannya.

Biarkan tulisan di atas seperti itu, jangan disimpulkan dulu. Sampai kita membaca penuturan tentang biografi dua orang besar dalam sejarah Islam; Ibnul Jauzi dan An Nawawi. Dua nama yang tidak asing bagi kita para pecinta ilmu. Keduanya ulama besar yang melahirkan kebesaran, dengan nama yang selalu dikenang istimewa di setiap zaman.

Dalam buku karya Ibnul Jauzi sendiri (Al Muntadzam fi Tarikh al Umam wal Muluk), dia menceritakan tentang dirinya waktu usia kanak-kanak,

Sesungguhnya kebanyakan nikmat padaku bukan karena usahaku, tetapi karena anugerah dari Yang Maha Lembut untukku. Aku ingat bahwa aku ini adalah orang yang mempunyai tekad yang tinggi. Aku di Kuttab pada usia 6 tahun. Aku ini berteman dekat dengan anak-anak yang sudah besar. Aku dianugerahi akal yang besar di usia kecilku. Seingatku aku tidak pernah bermain dengan anak-anak di jalanan. Tidak juga tertawa lepas di luar. Hingga ketika aku berusia 7 tahun atau sekitar itu, aku hadir di pelataran masjid. Aku tidak memilih kumpulan yang mengenyangkan. Tapi aku mencari seorang ahli hadits. Beliau bicara tentang sejarah dan aku pun hapal semua yang aku dengar darinya. Kemudian aku pulang ke rumah dan menulisnya.

Aku bersyukur bertemu syekh kami Abul Fadhl bin Nashir rahimahullah. Beliau membawaku ke beberapa syekh. Beliau menyampaikan kepadaku Al Musnad (kitab hadits) dan yang lainnya berupa kitab-kitab besar. Dan aku tidak tahu apa yang beliau inginkan dariku. Beliau mengoreksi ilmu yang telah saya dengar sampai saya berusia baligh. Kemudian beliau memberikan ijazahnya kepadaku. Aku terus bersama beliau sampai beliau wafat, rahimahullah. Aku mendapatkan pengetahuan tentang hadits dan periwayatannya.

Anak-anak dahulu bermain dengan turun ke Sungai Dijlah dan menikmati pemandangan dari atas jembatan. Aku di usia itu mengambil sebuah juz dari Al Quran dan aku duduk menjauh dari manusia untuk menyibukkan diri dengan ilmu.”

Selanjutnya, inilah biografi An Nawawi di usia kecil, sebagaimana yang dituturkan langsung oleh gurunya An Nawawi; Syekh Yasin bin Yusuf Az Zarkasyi,

Aku melihat Muhyiddin An Nawawi saat berusia 10 tahun di Nawa. Anak-anak kecil lainnya memaksanya bermain bersama mereka. Dia lari menjauhi mereka sambil menangis karena tidak suka dipaksa. Dia kemudian membaca Al Quran pada situasi seperti itu. Tumbuhlah rasa cintaku padanya. Ayahnya meletakkannya di tokonya. Tapi Al Qurannya tidak tersita oleh kesibukan jual beli.Maka aku pun mendatangi guru yang mengajarinya Al Quran dan aku berpesan padanya: Anak kecil ini diharapkan kelak menjadi orang paling berilmu di zamannya, paling zuhud dan bermanfaat bagi manusia. Dia berkata kepadaku: Apakah kamu peramal? Aku jawab: Bukan, tetapi Allah lah yang membuatku bicara seperti itu.

Gurunya itu pun mendatangi orangtuanya (An Nawawi). Dan ia mendorongnya dengan penuh semangat sampai (An Nawawi) hafal seluruh Al Quran menjelang usia baligh.” (Thabaqat Asy Syafi’iyyah, As Subki)

Ternyata dua orang tokoh besar dalam sejarah Islam ini adalah dua orang yang di masa kecilnya tidak suka bermain. Mereka lebih asyik dengan ilmu sejak awal usianya.

Mari kita simpulkan sekarang !

Sekali lagi, bermain bagi anak-anak jelas merupakan kebaikan baginya. Walaupun perlu sebuah konsep bermain yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya dengan panduan Nabawi.

Tetapi, manakala ada anak yang tidak suka dengan dunia permainan, lebih gemar duduk bersama ilmu dan ahli ilmu, sudah mapan dan siap menelaah kitab-kitab besar sekalipun seharusnya segera diarahkan dan dibimbing untuk meraih kebesarannya di usia lebih awal. Jangan justru ditakut-takuti dengan berbagai kalimat yang memaksa mereka untuk bermain yang sebenarnya tidak ia sukai. Dan juga jangan sampai memaksa mereka untuk menyapih kegemarannya duduk bersama ilmu dan ahli ilmu.

Karena dalam dirinya ada kalimat Nabi Yahya: Bukan untuk bermain, aku diciptakan! [BudiAshari/parentingnabawiyah]

Bukan Untuk Bermain Aku Diciptakan

Leave a comment

“BERMAIN sih memang dunia anak-anak.”

Kalimat ini seperti telah menjadi sebuah aksioma tak terbantahkan. Saya pun tidak sedang ingin membantah. Saya sepaham dengan kalimat ini.

Kalau begitu apa yang mau dibahas di tulisan ini?

Tulisan ini merupakan mukaddimah untuk konsep utuh yang Islami tentang dunia permainan bagi anak-anak –biidznillah-.

Apakah harus segitunya…? Oh ya, karena Nabi sendiri yang memilihkan, menyetujui dan mengarahkan tentang permainan anak-anak di zaman terbaik itu. Bahkan para ulama juga bicara tentang hal ini. Sebenarnya para ahli kesehatan dan pendidikan zaman sekarang, sudah sering mengingatkan tentang bahaya permainan-permainan tertentu.

Apalagi jika kita baca ayat berikut ini,

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.”Dan Kami Berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak.” (Qs. Maryam: 12)

More

Ayah, Ternyata Engkaulah Penyebab Utamanya

Leave a comment

AYAH, apakah ayah termasuk orang yang berkeyakinan seperti ini : “Ayah kan sudah keluar seharian sampai kadang pulang malam mencari uang demi anak. Supaya bisa memberikan gizi yang lebih baik, menyekolahkan di tempat yang berkualitas yang biasanya mahal, memenuhi fasilitas belajar dan kehidupan anak-anak. Jadi pendidikan, diserahkan ke ibunya saja”

Jika ayah tipe orang yang seperti ini, terjemahan dalam rumahnya menjadi begini : “Ibu yang mengurusi semua semua hal tentang pendidikan baik ilmu ataupun keteladanan, kemudian pertemuan dengan ibu dianggap sudah cukup mewakili, efeknya merasa tidak terlalu penting pertemuan fisik ayah dengan anaknya, dan akhirnya ayah menumpahkan kesalahan yang dilakukan anak kepada ibu yang tidak becus mendidik, tanpa merasa ada andil kesalahan ayah di sana”

Ayah adalah orang yang seperti ini? Jika ‘iya’ jawaban ayah, atau ‘mungkin’, atau kayaknya ‘sebagian benar’, maka sungguh ayah akan kehilangan anak-anak ayah di kemudian hari. Saat anak ayah memasuki pelataran masa depannya dan ayah telah memasuki kamar usia senja, atau bahkan lebih cepat dari itu, berbagai ‘tsunami’ masalah menghantam kenyamanan rumah ayah karena ulah anak ayah yang baru gede.

Para ayah yang dirahmati Allah, yuk kita baca nasehat ini. Nasehat yang datang dari seorang ulama ternama abad 8 H.

Ibnu Qoyyim r.a dalam kitab Tuhfatul maudud 1/242, MS, secara tegas mengatakan bahwa penyebab utama rusaknya generasi hari ini adalah karena ayah.

More

Leave a comment

Lima Posisi Anak Bagi Orangtua Dalam Al-Qur’an

AL-QUR’AN merupakan petunjuk jalan bagi setiap keluarga muslim yang telah mempunyai keturunan, atau mereka yang sedang menanti hadirnya keturunan, atau yang sedang khusyu’ dalam munajat agar diberikan amanah indah itu, atau yang sedang belajar untuk menapaki tangga menuju bahtera rumah tangga.

Al Quran telah menyampaikan bagi setiap keluarga muslim bahwa anak mempunyai 5 potensi bagi kehidupan orangtuanya baik itu potensi yang positif ataupun potensi negatif. Berikut ini ke 5 hal tersebut:

Anak sebagai hiasan hidup. Allah berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imron: 14) More

Kebahagiaan ada ada kesabaran dalam menghadapi musibah

Leave a comment

Syuraih berkata, “ Jika aku ditimpa musibah, aku selelu memuji Allah sebanyak empat kali karena empat hal :

  1. Karena musibah itu tidak lebih berar dari yang aku kira
  2. Karena Dia memberiku kesabaran dalam menghadapai musibah
  3. Karena Ia membingbingku untuk mengucapkan istirja (inna lillahi wa inna ilaihi rajiun)
  4. Kaena Dia tidak menjadikan musibah itu merusak agamaku

Seorang mukmin akan menyadari dengan sepenuhnya bahwa musibah yang menimpanya bukan untuk menyiksa dirinya, dan apa yang dirasa sebagai derita bukan untuk menyakitinya. Yaitu, sebagaimana telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya

Wahai manusia, apa saja yang terjadi di bumi dan pada diri kalian semuanya telah ditetapkan dalam catatan nasib seseorang di Lauhil Mahfuzh sebelum Kami menciptakan makhluk. Sungguh bagi Allah sangat mudah untuk mengetahui setiap kejadian di dunia ini. Kami beritahukan semua ini agar kalian tidak berputus asa karena gagal meraih sesuatu atau berbangga diri karena berhasil mendapatkan apa yang Allah berikan kepada kalian. Allh tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri lagi congkak (QS Al-Hadiid [57]22-23)

Rasulullah SAW, para nabi dan orang-orang saleh telah diuji dengan ujian yang masih lebih berat dari ujian yang kita hadapai saat ini. Walau demikian, mereka tetap bersabar dan selalu berlindung kepada Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin harus meyakini bahwa semua pekara yang ia hadapi dalam hidup ini adalah baik. Yang demikian itu tidak akan didapatkan, kecuali oleh seorang mukmin jika ia mendapatkan kemudahan, ia bersyukur. Dan itu baik baginya. Jika ia mengalami kesulitan, ia bersabar. Dan itu baik baginya (HR Muslim)

Jiwa manusia yang sehat tidak akan merasakan ketenangan, kecuali jika Ia bersandar kepada Allah. Allah berfirman, “Yaitu orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah-lah hati menjadi tentram (QS Ar-Ra’du 28)

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.