Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Kematian

Leave a comment

Siapa yang tidak ingin memiliki amalan yang terus mengalirkan pahala padahal kita sudah tidak lagi hidup di dunia. Dengan pahala yang mengalir itu tentunya akan menjadi pemberat kebaikan di hari penghisaban kelak. Apa saja amalan tersebut? Berikut pembahasan yang ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits dalam konsultasisyariah.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah tidak hanya mencatat amal perbuatan yang kita lakukan, namun Allah juga mencatat semua pengaruh dari perilaku dan perbuatan kita. Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati, Kami catat semua yang telah mereka lakukan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan semuanya kami kumpulkan dalam kitab (catatan amal) yang nyata.” (QS. Yasin: 12)

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan dua tafsir ulama tentang makna kalimat, ‘bekas-bekas yang mereka tinggalkan More

Syam Adalah Amanah di Pundak Kalian

Leave a comment

Media As-Sahab, divisi media Tanzhim Al-Qaidah, Rabi’ul Awwal 1437, merilis rekaman Dr. Aiman Azh-Zhawahiri berjudul “Syam Amanatun fi A’naqikum”, Syam Amanat di Pundak Kalian. Video berdurasi 27 menit 35 detik tersebut muncul di media online Kamis, 4 Rabi’ul Akhir 1437 H/14 Januari 2016 M.

Azh-Zhawahiri menegaskan dalam pesannya bahwa Syam adalah amanah bagi umat Islam. Ia mengingatkan dari upaya-upaya penyelesaian ke arah politik, yang menjauhkan dari tegaknya syariat Islam. Salah satunya adalah konferensi Riyadh, yang baru-baru ini diadakan.

Semua orang mengikuti berita Konferensi Riyadh, yang dilanjutkan dengan pengumuman Arab Saudi tentang pembentukan aliansi untuk memerangi apa yang dinamakan terorisme, menurut Azh-Zhawahiri hanyalah bentuk pelayanan atas kepentingan-kepentingan Tuan Besar Amerika. Dua tindakan Arab Saudi tersebut tidak lain hanyalah dua episode dalam upaya Arab Saudi dan negara-negara keji semisalnya untuk menyelewengkan perjalanan jihad secara umum dan perjalanan jihad Suriah secara khusus dari jalannya yang lurus, untuk kemudian menceburkannya dalam lumpur negara nasionalis dengan multipartai, pluralisme, dan istilah semisalnya.

Jihad dan kesungguhan usaha, menurutnya, sudah seharusnya demi menegakkan negara dengan kedaulatan tertinggi di dalamnya adalah milik Syariat Islam. Sebuah negara yang tidak mengakui batas-batas wilayah nasional dan perbedaan kebangsaan. Itulah negara yang meyakini kesatuan negeri-negeri Islam dan persaudaraan orang-orang mukmin.

Pemimpin Al-Qaidah itu mengingatkan, jangan sampai hasil dari semua pengorbanan yang sangat besar mujahidin dipetik oleh sekelompok manusia sampah dari kalangan kaum sekuler, sebagai akibat dari hasil tawar-menawar para politikus yang mengabaikan pokok-pokok ajaran akidah dan syariah yang baku. Azh-Zhawahiri tidak ingin jihadis mengulang kembali kesudahan yang buruk dari apa yang mereka namakan Arab Spring di negara-negara Arab lainnya.

Konferensi Riyadh juga dipandang sebagai upaya yang akan berakhir pada kegagalan yang sama. Itu adalah upaya untuk menimbulkan perpecahan di antara mujahidin di Syam. Hal itu patut diwaspadai agar tidak mengulang apa yang dahulu terjadi di Afghanistan. Tujuan konferensi itu adalah agar barisan jihad di Syam akan terpecah-belah, sehingga negeri Syam dikuasai oleh kaki tangan musuh, seperti Mujaddidi, Abdu Rabbih Manshur Hadi, As-Sisi, Al-Baji, dan Qayid As-Sabsi, demi melayani kepentingan-kepentingan Amerika dan menjaga keamanan Israel.

Di sisi lain, Azh-Zhawahiri mengingatkan aliansi setan kontemporer yang menggabungkan Rafidhah Shafawiyah, Nushairiyah, orang-orang sekuler, dan salibis barat maupun salibis timur terhadap umat Islam. Mereka berupaya untuk memecah-belah barisan mujahidin dan mengadu sebagian mujahidin dengan sebagian lainnya.

Untuk menghadapi itu, Azh-Zhawahiri berpesan agar mereka hanya percaya kepada pertolongan Allah, kemudian kepada diri sendiri dan umat Islam. “Allah telah meneguhkan kalian, memberi kalian taufik, dan melindungi kalian dari tipu daya mereka. Maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, karena kalian adalah harapan umat Islam pada masa kini. Janganlah kalian mengecewakan harapan mereka pada diri kalian. Cukuplah umat Islam mengalami bencana akibat perbuatan orang-orang takfiri ekstrim, yang mengorbankan kehormatan kaum muslimin, persatuan kaum muslimin, dan nyawa kaum muslimin demi meraih syahwat kekuasaan.”

“Sesungguhnya negeri Syam adalah amanat di pundak kalian, maka janganlah kalian menyerahkannya kepada orang-orang sekuler, jangan pula kepada orang-orang Rafidhah Shafawiyah, jangan pula kepada orang-orang Nushairiyah, dan jangan pula kepada orang-orang takfiri ekstrim.

Janganlah kalian berhenti dari jihad kalian sehingga tegak Daulah Islam di negeri Syam, hukum syariat Islam diberlakukan, dan berdiri kokoh panji jihad, serta kalian menjadi pasukan pelopor menuju pembebasan Al-Aqsha, dengan izin Allah,” ungkapnya di akhir rekaman tersebut.

Lampiran: terjemahan Bahasa Indonesia

Kehalalan Operasi Militer yang Masih Dipertanyakan? (1)

Leave a comment

Kehalalan-yg-masih-dipertanyakanDi awal tahun 2016 pada Kamis (14/1/2016) pagi sekitar pukul 11:00, Indonesia telah dikejutkan dengan sebuah aksi penyerangan. Ledakan beruntun terjadi di sekitar halaman parkir depan kafe Starbucks, Jalan Husni Thamrin, Jakarta Pusat.

Para pelaku beraksi di perempatan dekat pusat perbelanjaan Sarinah di mana pihak kepolisian langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku. Sempat terjadi baku tembak di dekat kafe Starbucks dan pos polisi Sarinah. Polisi pun menutup dan mensterilisasi kawasan itu. Jalan Thamrin hingga Bundaran Hotel Indonesia ditutup untuk dua arah.

Sebagaimana diketahui, aksi-aksi semacam ini sudah mendapat banyak teguran dan koreksi atas banyaknya mudharat yang didapatkan ketimbang manfaatnya. Apapun alasannya, tegas Ustadz Abu Jihad Al-Indunsiy, aksi yang bisa mendistorsi makna Jihad dan menyebabkan tertumpahnya darah kaum Muslimin tetap tidak bisa dibenarkan. More

55 Kisah Qiyamullail Para Salafusshalih

Leave a comment

Ketahuilah –wahai yang selalu mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Allah- bahwa kebanyakan dari orang-orang yang malas dan menganggur jika mendengar berita (kisah) kesungguhan para salafussalih dalam menunaikan ibadah qiyamullail, mereka menduga sebagai perbuatan berlebihan dan tasyaddud (keras) dan taklif (beban) yang berlebihan dan melampaui batas pada jiwa mereka.

Ini adalah suatu kejahilan dan kesesatan, karena ketika lemah keimanan kita, menurun azimah kita, kecil rasa rindu kita kepada surga dan sedikit rasa takut kita pada neraka maka akan mudah tunduk pada kenikmatan dan  rasa senang yang diiringi sikap malas, tidur dan lalai. Akhirnya kitapun menjadi seseorang yang jika mendengar para ahli zuhud dan ahli ibadah serta apa yang mereka lakukan dari berbagai kesungguhan dan kegigihan dalam beribadah dan ketaatan terasa asing dan bahkan berusaha mengingkarinya. Tentunya tidak asing, karena setiap ada bejana yang ada di dalamnya pasti akan masak (matang), dan ketika hati para salaf bergantung pada Zat yang Maha Lembut dan Maha Pemaksa, keinginan mereka hanya tertuju pada tempat yang kekal. Seharusnya tertulis pada diri kita akan kebanggaan yang sangat mulia tersebut, karena mereka telah memberikan teladan yang mulia kepada kita. Namun ketika kita tunduk pada dunia dan berlomba-lomba menggapainya, mka kita akan menjadi jahat dibuatnya. Karena itu, sadarlah wahai saudaraku yang tercinta dari kelalaian ini, karena mereka pada ahli ibadah yang memiliki kesungguhan dalam beribadah di malam hari seakan seperti rahib, sementara kita tetap berada dalam kemalasan dan tenang berada diatas bantal!! More

Imam Abu Hanifah Pernah Bermimpi Aneh, Tentang Apa Ya?

Leave a comment

Imam Abu Hanifah pernah berguru kepada Hammad bin Abu Sulaiman. Dia berguru kepada Hammad selama 18 tahun sejak berusia 22 tahun. Ketika gurunya meninggal, usia Abu Hanifah menginjak 40 tahun. Maka, sejak saat itu berbagai halaqah dan majelis taklim Hammad diampu oleh Abu Hanifah.

Saat masih bersama gurunya, Abu Hanifah pernah bermimpi aneh. Dalam mimpinya ia melihat seekor babi tengah menggerogoti batang pohon. Tiba-tiba, sebatang dahan kecil di pohon itu melengkung dan memukul babi itu dengan keras sehingga membuatnya lari menjauh sambil mengorok keras. More

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:

Leave a comment

Salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)“ [Igaatsatul lahfaan” (1/37)].

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:

“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan):

  • Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya,
  • kepayahan yang tiada henti, dan
  • penyesalan yang tiada berakhir.

More

Bagaimana Anda (bisa) Mengungguli Ulama?

Leave a comment

{ لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ }

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. (QS. An-Nisaa’ [4]: 95)

Karya

Fadhilatu Syaikh Al-‘Alim

Kholid bin Abdurrahman Al-Husaynan

hafizhahullah

alih bahasa:

al-Faqir Ilalloh wa tholibus syahadah

Abu Syakir
Pusat Media Al-Fajr

1431 H – 2010 M

Segala puji bagi Allah Rab semesta alam dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan segenap sahabatnya.

Syaikhul Mufassirin Abu Ja’far Ath-Thabariy berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

{ لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ }

Maksudnya firman Allah Ta’ala [“لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ”] adalah orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang absen dari jihad fi sabilillah tidak sama dengan mujahidin fi sabilillah. Karena mereka lebih memilih kenyamanan, kemapanan dan duduk di tempat tinggal mereka daripada bersusah payah menanggung beratnya perjalanan berjihad dan beratnya menghadapi musuh-musuh Allah dengan berjihad melawan mereka karena Allah dan dengan memerangi mereka sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kecuali orang-orang yang mempunyai udzur di antara mereka dengan hilangnya penglihatan mereka dan penyakit-penyakit lainnya yang menghalangi pemiliknya –karena penyakit yang menimpa mereka- dari memerangi dan berjihad melawan mereka di jalan Allah.

“وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ” dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan dalam memperjuangkan minhaj dien-Nya supaya kalimat (hukum) Allah menjadi yang tertinggi, yang mengerahkan segala potensi mereka dalam memerangi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh dien mereka dengan harta benda mereka sebagai infak untuk melemahkan musuh-musuh orang-orang yang beriman kepada Allah dan dengan jiwa mereka. Mereka memerangi musuh-musuh tersebut secara langsung yang bisa membuat kalimat Allah menjadi tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah. More

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.